Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Puisi

Sesampai di Meulaboh

hari ini kami pulang ke tempat yang dulu bernama rumah dua lantai dengan jati tua sebagai tiang setarik nafas merata tanah di sepanjang jalan berjajar menara kardus baju bekas buku bekas susu kaleng daging kaleng obat batuk obat pusing obat kulit obat luka, luka apa yang bisa disembuhkan manusia bila amarah masih mengalir bersama darah merembesi kain kasa dan perekatnya memerah kata ayah, Tuhan menunggu kami yang menumpang berkendara lapar dan sedih mengapa kau bilang Dia murka? sedangkan dia memasangkan sendiri pita-pita dan lampu pesta mari kita rayakan kerinduan kepada nestapa bukankah gelak tawa dan canda itu bisa kau belanjakan sewaktu-waktu, di manakah bisa kau tawar tangis dengan harga murah? Dia memberimu cuma-cuma dan kau menyebutnya derita. kami duduk di sejulur patahan kayu yang dulu terletak kursi-kursi tamu mengelilingi meja yang kami susun dari pecahan kaca kata ibu, Tuhan menunggu kami yang tersenyum dengan bibir terkatup menatap dengan k...

22 desember

menjelang kematianku seseorang menangis kayu pasunganku basah melapuk dia kira aku terluka padahal aku sudah lupa cara merasa aku disentuhnya tidak mungkin aku moksa tapi jemarinya seperti angin pun tidak tubuhku melepuh dia inginkan dosaku terhapus seperti jejak terhanyut hujan aku bilang percuma dia merintihkan namaku nama kecilku sudahlah, ampuni aku saja lihat siapa yang menungguku di pintu jangan menangis lagi, Ibu

kemarin

aku mayat di antara mayat bermimpi tentang hayat simpankan untukku satu dari ribuan de javu akankah kita berhinggapan pada satu ranting waktu? aku dicekam rindu

parau

kepada wajah-wajah rusak terkoyak dihadiahkan bertubi-tubi pagutan bau busuk gorong-gorong dan hujan setengah hati pagi atau malam adalah pilihan kesedihan dan air mata seperti dua bujangan yang niscaya berjodoh racun-racun. cukup separuh dosis sekali minum kebetulan-kebetulan adalah kebenaran-kebenaran berakselerasi tinggi pada kesempatan-kesempatan serupa kencana di rahimnya bertumbuh calon orok bernama kesalahan keputusan dan penerimaan tak ubah dua sahabat berseteru tak niscaya berdamai

Setelah Lebaran

turunlah, kekasih hati-hati dan pelahan dari singgasana keraguan sehingga degup dada laju teredakan bolehkah kuhamparkan, doa tertatah di palimanan setapak demi setapak susurilah langkahmu semoga sekuat dahulu

Syahid

rohku adalah burung memakan buah-buahan dan menggantung di sebuah pohon surga rohnya terbang berlalu lalang membaca semerdu entah siapa di hari malam pulang kepada rumahnya pelita-pelita dari batu permata dan yaqut dan menggantung di sebuah pohon surga rohku naik ke langit namun langit benderang karena rohnya rohku menanti namun pintu langit terbuka menantikan rohnya selamat datang, berkata para malaikat, “keluarlah wahai jiwa yang baik yang sebelumnya berada di jasad yang baik keluarlah dalam keadaan terpuji dan terimalah kabar gembira ketenangan dan kenikmatan serta Rabb yang tidak murka” rohku mengenal rohnya rohku mendengar rohnya lembut awan kapas meminta, “kami ingin kembali kepada badan-badan kami agar kami dapat berperang karena Engkau sekali lagi” lalu terdengar suara “dari tanah, kembalilah kepada tanah. Aku akan mengeluarkanmu pada hari berbeda” di antara badan kasar dan mori wangi. sangat wangi.

babak satu

selamat datang rasa cemas sebuah pilihan sudah dijatuhkan roh sudah ditiupkan pada janin keingintahuan sebentar lagi sel-sel ternyata akan membelah diri dengan keliaran sempurna perkenankan hamba menggerakkan jari-jari mengunci semua pintu hawa diri memuji-Mu permudahkan ujianku

Jangan pergi, kumohon...

aku jatuh dengan puncak tengkorak menghujam bumi kutemukan lorong panjang ke seberang tidak ada langit belulangku remuk dijilati anjing pasar reinkarnasi saudagar aku menjajakan keringat setetes kecil dengan nampan telapak kaki sungguh melelahkan melompat bertumpu kepala berteriak dengan ibu jari siapa perencana deritaku konstruksi baja pilu menolak bara penghiburan rahangku tirus berpola tamparan apakah harus begitu yang dinamai cobaan aku tak mau angin aku tak mau air aku mau hidup saja lalu mati saja tapi jangan berakhir jangan berhenti menguburku dengan cinta

cintailah aku

kuncup rinduku mekar mendengarmu tertawa semak sesalku sesak melihatmu berair mata akulah warna nila ketika malam merapuhkan stola jingga peredam pucat saat Januari mengasingkan maka pada satu pagi lembut hangat melipat sekujur ragu berharap tak sekedar maya matahariku, engkaukah itu?

kangen bapak

semalam purnama orang-orang berbondong ke pura ikat di kepala dan anteng di bawah dada ada wangi kenanga debur ombak iramanya seperti mesin ketik tua sebentar lagi laut pasang bulan tercelup mug kopi kapan terakhir kita ketemu? berapa sekarang umurmu? anggrek di halaman ada beberapa yang mekar tidak harum –cuma aroma formalin tercium apakah kau masih menerima ucapan selamat ulang tahun? aku punya bunga sekuntum mawar yang terbuat dari langit yang terbelah* kulihat dari sini lewat teleskop seketika aku ternganga tak jadi bertanya di mana surga, apa kau juga di sana kalau kau melihatnya sendiri kau akan tahu aku kadang-kadang sangat ingin ada kau di dekatku ____________ *QS 55 – Ar-Rahman: 37. When the sky is torn apart, so it was (like) a red rose, like oinment.

20 hari lagi Ramadhan

selama ini, Gusti telah sungguh-sungguh(kah) saya berusaha(?) telah khusuk(kah) saya berdoa(?) telah benar(kah) cara saya berikhtiar(?) telah saya pasrahkan(kah) hidup dan mati saya padaMu(?) saya santai-santai santai saja apakah saya bersyukur padaMu? apakah saya datang padaMu? apakah saya minta pertolonganMu? adakah yang lebih sombong dari saya ini, Gusti?

refleks(i)

pada mulanya: "aku ingin kau mencintaiku" pada titik berikutnya: "aku ingin mencintaimu" dapatkah, tinggal aku dan kau saja? mencintaimu dan mencintaiku saja tak ada ingin: tak ada akhir

Cruise by Strauss

Rolling Stone edisi Agustus, cover-nya Tom Cruise dengan rambut sudah di crew-cut. Sepertinya akan laris (belum ada laporan terjual berapa eksemplar, sih), tapi dengan pose dan ekspresi yang ‘lelaki sekali’ itu, gadis-gadis tidak akan terlalu peduli apa isi RS edisi ini. Memandangi covernya saja sudah ‘worth it’. Saya membaca cover story-nya. Neil Strauss yang menulis, berdasarkan interview yang dilakukan saat Cruise sedang latihan untuk persiapan perannya di Mission Impossible:3. Di situ bisa dibaca soal kegiatan Cruise sebagai penganut Scientology, bagaimana dekatnya si Jerry McGuire ini dengan saudara-saudaranya, dan betapa dia berusaha total untuk setiap film yang akan dibintanginya. Yang mungkin agak spesial, Tom Cruise –yang tampaknya sangat tertutup itu, curhat. Jadi, setelah cerita-cerita dan memperlihatkan foto-foto anak-anak (yang diadopsi Cruise saat masih bersama Nicole Kidman), Cruise ditanya begini oleh Neil Strauss: "Since your parents' divorce affected you...

sedalam itu

kukagumi lelaki, seperti lelaki mengagumiku kupahat raga lelaki pada batu-batu, kujadikan berhalaku rajam ‘ku dibuai, senikmat perih yang kutuai lelaki dalam gelas kupecahkan mengalir di beling bening darahnya kugarami lukanya kuteriakkan kembali lolongannya lelaki menjelangku di bawah cahaya matahari kuku jarinya memercikkan api kubelah dadanya dengan kapak bermata satu kulahap jantungnya yang memangsa jiwaku lelaki menari kegirangan dalam iringan tabuhanku seluruh barisan giginya terlihat korneanya mencuat, memutih lalu memucat kulitnya mengeriput kekar badannya menyusut gendang tak berhenti lelaki terus menari melompat-lompat seperti mumi tak beranjak jatuh cuma patuh aku elang berparuh tajam setipis pun sunsum tak kusisakan kepeluk lelaki, seerat lelaki memelukku kurebahkan lelaki pada permadani mawar yang telah habis durinya kukunyah air laut menjadi tawar langit menumbuhkan belukar lelaki memintaku satu ciuman aku mencintai lelaki...

cuma rindu

aku ingin bercinta di atas tumpukan kitab suci. berdosakah? bukankah setiap lekuk tubuhnya adalah ayat? aku hafal setiap pori, bisa kulagukan dalam notasi, lidahku sudah fasih. Kau katakan Adam bukan dari mani, ruhnya ditiupkan ke segumpal lempung lenturnya menggeliat, membujur, melengkung, telentang, mengangkang, mengejang aku melihatnya, mata kepalaku sudah percaya. mereka bilang nabi bicara dengan lembut, apakah dia juga merintih? aku pembangkang, patuh hanya pada perintah ketidakberdayaan Kau tahu bukan, aku pengkhianat? tapi kutemukan khusyu pada matanya yang mengiba. Kau menantiku di puncak kejujuran, aku tahu setiap kali aku mengerang, Kau kutemukan. semoga dustaku tersepuh peluh. mengapa tak kunjung pupus? rindu. semakin menusuk.

oasis

ini yang kau katakan pada satu malam: "bagaimana kau dapat menjelaskan makna pertemuan (kita)? seperti (pandir) yang mencari jantungnya sendiri merasa belum pernah melihatnya padahal jantung itu ada di dalam dadanya" :: jatuh cinta pada satu waktu? seperti jambu air dirontokkan dari pohonnya sebagian menimpa tanah sebagian menghempas batu di antaranya terbelah di antaranya utuh apakah kau menikmatinya, wahai angin? (bagaimana mungkin kau meniupkan rindu?)

pada saat perih

Seperti kupu-kupu Aku lepas dari kepompongku Lalu kudatangi dia, kudatangi mereka, kudatangi kau Tapi kuhisap kau, hanya kau Warnamu terlalu berkilau Aromamu begitu memabukkan Seperti yang kukira Aku tak kan pernah bisa pergi Dan tak ingin pergi Karena aku telah mati Bersamamu, di taman ini ::: kau ingin menemuiku suatu hari kuyakinkan kau tak akan ada suatu hari itu karena akulah 7 hari dalam seminggu 24 jam sehari 3600 detik dalam hidupmu kini aku begitu dekat padamu hingga memandangiku pun seperti tak kau sadari