Skip to main content

sedalam itu

kukagumi lelaki,
seperti lelaki mengagumiku
kupahat raga lelaki
pada batu-batu,
kujadikan berhalaku
rajam ‘ku dibuai,
senikmat perih yang kutuai

lelaki dalam gelas kupecahkan
mengalir di beling bening darahnya
kugarami lukanya
kuteriakkan kembali lolongannya

lelaki menjelangku di bawah cahaya matahari
kuku jarinya memercikkan api
kubelah dadanya dengan kapak bermata satu
kulahap jantungnya yang memangsa jiwaku

lelaki menari
kegirangan dalam iringan tabuhanku
seluruh barisan giginya terlihat
korneanya mencuat, memutih lalu memucat
kulitnya mengeriput
kekar badannya menyusut
gendang tak berhenti
lelaki terus menari
melompat-lompat seperti mumi
tak beranjak jatuh
cuma patuh
aku elang berparuh tajam
setipis pun sunsum tak kusisakan

kepeluk lelaki,
seerat lelaki memelukku
kurebahkan lelaki
pada permadani mawar yang telah
habis durinya kukunyah
air laut menjadi tawar
langit menumbuhkan belukar
lelaki memintaku satu ciuman

aku mencintai lelaki,
tak kuharapkan lelaki kembali
mencintaiku

Comments

Oyn Dwi said…
Buseettt dahsyat banget puisi na... ajarin dnk mbak!

Popular posts from this blog

Sesampai di Meulaboh

hari ini kami pulang ke tempat yang dulu bernama rumah dua lantai dengan jati tua sebagai tiang setarik nafas merata tanah di sepanjang jalan berjajar menara kardus baju bekas buku bekas susu kaleng daging kaleng obat batuk obat pusing obat kulit obat luka, luka apa yang bisa disembuhkan manusia bila amarah masih mengalir bersama darah merembesi kain kasa dan perekatnya memerah kata ayah, Tuhan menunggu kami yang menumpang berkendara lapar dan sedih mengapa kau bilang Dia murka? sedangkan dia memasangkan sendiri pita-pita dan lampu pesta mari kita rayakan kerinduan kepada nestapa bukankah gelak tawa dan canda itu bisa kau belanjakan sewaktu-waktu, di manakah bisa kau tawar tangis dengan harga murah? Dia memberimu cuma-cuma dan kau menyebutnya derita. kami duduk di sejulur patahan kayu yang dulu terletak kursi-kursi tamu mengelilingi meja yang kami susun dari pecahan kaca kata ibu, Tuhan menunggu kami yang tersenyum dengan bibir terkatup menatap dengan k...

22 desember

menjelang kematianku seseorang menangis kayu pasunganku basah melapuk dia kira aku terluka padahal aku sudah lupa cara merasa aku disentuhnya tidak mungkin aku moksa tapi jemarinya seperti angin pun tidak tubuhku melepuh dia inginkan dosaku terhapus seperti jejak terhanyut hujan aku bilang percuma dia merintihkan namaku nama kecilku sudahlah, ampuni aku saja lihat siapa yang menungguku di pintu jangan menangis lagi, Ibu

Pada Mulanya adalah Kata*

Minggu, 11 Desember 2005, 09.11, Aska, anak laki-lakiku ke-dua mengeluarkan kata pertamanya! Ibruuwwww! Whattt?!! Ibu? Coba ulangi, pintaku. Dia memandangku sekilas, lalu membenamkan kepalanya ke pelukanku, lamaaa sekali, seperti ingin bilang: aku malu, ibu. Aska, my sunshine, it's okay dear... Ibu tidak memaksamu. Ibu cuma takjub mendengar kata itu terlompat dari mulut mungilmu. Thank you for making my day full coloured with rainbow of hopes. Karena sehari sebelumnya, aku sempat kecil hati karena ibu mertuaku menatap Aska dengan pandangan kasihan, as if my little cute offspring completely abnormal. Sampai hari ini kata-kata yang dikuasainya memang nyaris belum ada yang konsisten. Setidaknya Aska bisa melafalkan beberapa konsonan dan vokal. a,i,u,e,o,p,b,m,r,s,g,t,l,n,z,c,d,q, walaupun masih meracau. Aska sayang, tahukah kau, alam raya ini terjadi ketika Dia berkata. Manusia ada ketika Dia berkata. Maka ibu percaya, jika ibu banyak-banyak berkata-kata kepadamu, kepada mereka dan te...