Skip to main content

Posts

Pada Mulanya adalah Kata*

Minggu, 11 Desember 2005, 09.11, Aska, anak laki-lakiku ke-dua mengeluarkan kata pertamanya! Ibruuwwww! Whattt?!! Ibu? Coba ulangi, pintaku. Dia memandangku sekilas, lalu membenamkan kepalanya ke pelukanku, lamaaa sekali, seperti ingin bilang: aku malu, ibu. Aska, my sunshine, it's okay dear... Ibu tidak memaksamu. Ibu cuma takjub mendengar kata itu terlompat dari mulut mungilmu. Thank you for making my day full coloured with rainbow of hopes. Karena sehari sebelumnya, aku sempat kecil hati karena ibu mertuaku menatap Aska dengan pandangan kasihan, as if my little cute offspring completely abnormal. Sampai hari ini kata-kata yang dikuasainya memang nyaris belum ada yang konsisten. Setidaknya Aska bisa melafalkan beberapa konsonan dan vokal. a,i,u,e,o,p,b,m,r,s,g,t,l,n,z,c,d,q, walaupun masih meracau. Aska sayang, tahukah kau, alam raya ini terjadi ketika Dia berkata. Manusia ada ketika Dia berkata. Maka ibu percaya, jika ibu banyak-banyak berkata-kata kepadamu, kepada mereka dan te...

Sesampai di Meulaboh

hari ini kami pulang ke tempat yang dulu bernama rumah dua lantai dengan jati tua sebagai tiang setarik nafas merata tanah di sepanjang jalan berjajar menara kardus baju bekas buku bekas susu kaleng daging kaleng obat batuk obat pusing obat kulit obat luka, luka apa yang bisa disembuhkan manusia bila amarah masih mengalir bersama darah merembesi kain kasa dan perekatnya memerah kata ayah, Tuhan menunggu kami yang menumpang berkendara lapar dan sedih mengapa kau bilang Dia murka? sedangkan dia memasangkan sendiri pita-pita dan lampu pesta mari kita rayakan kerinduan kepada nestapa bukankah gelak tawa dan canda itu bisa kau belanjakan sewaktu-waktu, di manakah bisa kau tawar tangis dengan harga murah? Dia memberimu cuma-cuma dan kau menyebutnya derita. kami duduk di sejulur patahan kayu yang dulu terletak kursi-kursi tamu mengelilingi meja yang kami susun dari pecahan kaca kata ibu, Tuhan menunggu kami yang tersenyum dengan bibir terkatup menatap dengan k...

22 desember

menjelang kematianku seseorang menangis kayu pasunganku basah melapuk dia kira aku terluka padahal aku sudah lupa cara merasa aku disentuhnya tidak mungkin aku moksa tapi jemarinya seperti angin pun tidak tubuhku melepuh dia inginkan dosaku terhapus seperti jejak terhanyut hujan aku bilang percuma dia merintihkan namaku nama kecilku sudahlah, ampuni aku saja lihat siapa yang menungguku di pintu jangan menangis lagi, Ibu

kemarin

aku mayat di antara mayat bermimpi tentang hayat simpankan untukku satu dari ribuan de javu akankah kita berhinggapan pada satu ranting waktu? aku dicekam rindu

parau

kepada wajah-wajah rusak terkoyak dihadiahkan bertubi-tubi pagutan bau busuk gorong-gorong dan hujan setengah hati pagi atau malam adalah pilihan kesedihan dan air mata seperti dua bujangan yang niscaya berjodoh racun-racun. cukup separuh dosis sekali minum kebetulan-kebetulan adalah kebenaran-kebenaran berakselerasi tinggi pada kesempatan-kesempatan serupa kencana di rahimnya bertumbuh calon orok bernama kesalahan keputusan dan penerimaan tak ubah dua sahabat berseteru tak niscaya berdamai

Setelah Lebaran

turunlah, kekasih hati-hati dan pelahan dari singgasana keraguan sehingga degup dada laju teredakan bolehkah kuhamparkan, doa tertatah di palimanan setapak demi setapak susurilah langkahmu semoga sekuat dahulu

Syahid

rohku adalah burung memakan buah-buahan dan menggantung di sebuah pohon surga rohnya terbang berlalu lalang membaca semerdu entah siapa di hari malam pulang kepada rumahnya pelita-pelita dari batu permata dan yaqut dan menggantung di sebuah pohon surga rohku naik ke langit namun langit benderang karena rohnya rohku menanti namun pintu langit terbuka menantikan rohnya selamat datang, berkata para malaikat, “keluarlah wahai jiwa yang baik yang sebelumnya berada di jasad yang baik keluarlah dalam keadaan terpuji dan terimalah kabar gembira ketenangan dan kenikmatan serta Rabb yang tidak murka” rohku mengenal rohnya rohku mendengar rohnya lembut awan kapas meminta, “kami ingin kembali kepada badan-badan kami agar kami dapat berperang karena Engkau sekali lagi” lalu terdengar suara “dari tanah, kembalilah kepada tanah. Aku akan mengeluarkanmu pada hari berbeda” di antara badan kasar dan mori wangi. sangat wangi.