Skip to main content

22 desember

menjelang kematianku seseorang menangis
kayu pasunganku basah melapuk
dia kira aku terluka
padahal aku sudah lupa cara merasa
aku disentuhnya
tidak mungkin aku moksa
tapi jemarinya seperti angin pun tidak
tubuhku melepuh
dia inginkan dosaku terhapus
seperti jejak terhanyut hujan
aku bilang percuma
dia merintihkan namaku
nama kecilku
sudahlah, ampuni aku saja
lihat siapa yang menungguku di pintu
jangan menangis lagi,
Ibu

Comments

Unknown said…
Gile bu.. berat kali puisi2 loe.. heheheh..
Eh, kalo ada waktu visit multiply gue yak: martinmanurung.multiply.com

Cheers!
Martin

Popular posts from this blog

Cruise by Strauss

Rolling Stone edisi Agustus, cover-nya Tom Cruise dengan rambut sudah di crew-cut. Sepertinya akan laris (belum ada laporan terjual berapa eksemplar, sih), tapi dengan pose dan ekspresi yang ‘lelaki sekali’ itu, gadis-gadis tidak akan terlalu peduli apa isi RS edisi ini. Memandangi covernya saja sudah ‘worth it’. Saya membaca cover story-nya. Neil Strauss yang menulis, berdasarkan interview yang dilakukan saat Cruise sedang latihan untuk persiapan perannya di Mission Impossible:3. Di situ bisa dibaca soal kegiatan Cruise sebagai penganut Scientology, bagaimana dekatnya si Jerry McGuire ini dengan saudara-saudaranya, dan betapa dia berusaha total untuk setiap film yang akan dibintanginya. Yang mungkin agak spesial, Tom Cruise –yang tampaknya sangat tertutup itu, curhat. Jadi, setelah cerita-cerita dan memperlihatkan foto-foto anak-anak (yang diadopsi Cruise saat masih bersama Nicole Kidman), Cruise ditanya begini oleh Neil Strauss: "Since your parents' divorce affected you...

Sesampai di Meulaboh

hari ini kami pulang ke tempat yang dulu bernama rumah dua lantai dengan jati tua sebagai tiang setarik nafas merata tanah di sepanjang jalan berjajar menara kardus baju bekas buku bekas susu kaleng daging kaleng obat batuk obat pusing obat kulit obat luka, luka apa yang bisa disembuhkan manusia bila amarah masih mengalir bersama darah merembesi kain kasa dan perekatnya memerah kata ayah, Tuhan menunggu kami yang menumpang berkendara lapar dan sedih mengapa kau bilang Dia murka? sedangkan dia memasangkan sendiri pita-pita dan lampu pesta mari kita rayakan kerinduan kepada nestapa bukankah gelak tawa dan canda itu bisa kau belanjakan sewaktu-waktu, di manakah bisa kau tawar tangis dengan harga murah? Dia memberimu cuma-cuma dan kau menyebutnya derita. kami duduk di sejulur patahan kayu yang dulu terletak kursi-kursi tamu mengelilingi meja yang kami susun dari pecahan kaca kata ibu, Tuhan menunggu kami yang tersenyum dengan bibir terkatup menatap dengan k...