Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2004

Cruise by Strauss

Rolling Stone edisi Agustus, cover-nya Tom Cruise dengan rambut sudah di crew-cut. Sepertinya akan laris (belum ada laporan terjual berapa eksemplar, sih), tapi dengan pose dan ekspresi yang ‘lelaki sekali’ itu, gadis-gadis tidak akan terlalu peduli apa isi RS edisi ini. Memandangi covernya saja sudah ‘worth it’. Saya membaca cover story-nya. Neil Strauss yang menulis, berdasarkan interview yang dilakukan saat Cruise sedang latihan untuk persiapan perannya di Mission Impossible:3. Di situ bisa dibaca soal kegiatan Cruise sebagai penganut Scientology, bagaimana dekatnya si Jerry McGuire ini dengan saudara-saudaranya, dan betapa dia berusaha total untuk setiap film yang akan dibintanginya. Yang mungkin agak spesial, Tom Cruise –yang tampaknya sangat tertutup itu, curhat. Jadi, setelah cerita-cerita dan memperlihatkan foto-foto anak-anak (yang diadopsi Cruise saat masih bersama Nicole Kidman), Cruise ditanya begini oleh Neil Strauss: "Since your parents' divorce affected you...

sedalam itu

kukagumi lelaki, seperti lelaki mengagumiku kupahat raga lelaki pada batu-batu, kujadikan berhalaku rajam ‘ku dibuai, senikmat perih yang kutuai lelaki dalam gelas kupecahkan mengalir di beling bening darahnya kugarami lukanya kuteriakkan kembali lolongannya lelaki menjelangku di bawah cahaya matahari kuku jarinya memercikkan api kubelah dadanya dengan kapak bermata satu kulahap jantungnya yang memangsa jiwaku lelaki menari kegirangan dalam iringan tabuhanku seluruh barisan giginya terlihat korneanya mencuat, memutih lalu memucat kulitnya mengeriput kekar badannya menyusut gendang tak berhenti lelaki terus menari melompat-lompat seperti mumi tak beranjak jatuh cuma patuh aku elang berparuh tajam setipis pun sunsum tak kusisakan kepeluk lelaki, seerat lelaki memelukku kurebahkan lelaki pada permadani mawar yang telah habis durinya kukunyah air laut menjadi tawar langit menumbuhkan belukar lelaki memintaku satu ciuman aku mencintai lelaki...

cuma rindu

aku ingin bercinta di atas tumpukan kitab suci. berdosakah? bukankah setiap lekuk tubuhnya adalah ayat? aku hafal setiap pori, bisa kulagukan dalam notasi, lidahku sudah fasih. Kau katakan Adam bukan dari mani, ruhnya ditiupkan ke segumpal lempung lenturnya menggeliat, membujur, melengkung, telentang, mengangkang, mengejang aku melihatnya, mata kepalaku sudah percaya. mereka bilang nabi bicara dengan lembut, apakah dia juga merintih? aku pembangkang, patuh hanya pada perintah ketidakberdayaan Kau tahu bukan, aku pengkhianat? tapi kutemukan khusyu pada matanya yang mengiba. Kau menantiku di puncak kejujuran, aku tahu setiap kali aku mengerang, Kau kutemukan. semoga dustaku tersepuh peluh. mengapa tak kunjung pupus? rindu. semakin menusuk.

Mario Wuysang

Bagaimana kamu bisa selalu tampil cemerlang di setiap pertandingan? Itu pertanyaan seorang reporter TV kepada Mario Wuysang – top scorer HP Aspac, usai pertandingan melawan CLS Good Day di final four IBL semalam di Malang. Wuysang point guard nomor punggung 10, menjawab dalam bahasa Inggris,”You have to play with your heart.” (Wuysang orang Indonesia, bapak-ibunya ber KTP Jakarta, tapi dia lahir-besar di Amerika, lulusan Northland Pioneer College Arizona, Indiana. Jadi dia lebih fasih American English). Wuysang yang plontos itu lalu melanjutkan,”Sebagus apapun teknik permainan yang kamu kuasai, kalau kamu main nggak pake hati, percuma. You’ll get nothing.” Tadi malam, Wuysang menyumbang 12 dari 56 poin Aspac. Wuysang memang hebat. Kata pelatihnya Koh Kim Hong, Mario is an intelligent "Court General" equiped with crafty ball handling, excellent court vision, clutch shooting and a cat quick first step. Ini beberapa pencapaiannya, tahun 99 ranking 5 versi NJCAA, tahun 2000-...

GM, menerima Achmad Bakrie Award dari Freedom Institute

Goenawan Mohammad, ia telah membuat bahasa Indonesia mampu mencapai kemungkinan terjauhnya dalam mengucapkan pikiran dan kepekaan modern. Dengan puisi dan esainya, ia membuktikan bahwa bahasa bukanlah sekedar sarana untuk menyatakan kebebasan, melainkan sumber dari kebebasan itu sendiri. Ketika kaum intelektual di tanah air ini berbahasa tak lebih dari kaum birokrat, Goenawan mengamalkan keintelektualan dalam sastra. Ia menjadikan bahasa bangsa yang muda ini layak setara dengan bahasa-bahasa yang telah tua dan mapan di dunia. (www.freedom-institute.org) :: (kupenjarakan bahasaku dalam prasangka, begitu lama)

oasis

ini yang kau katakan pada satu malam: "bagaimana kau dapat menjelaskan makna pertemuan (kita)? seperti (pandir) yang mencari jantungnya sendiri merasa belum pernah melihatnya padahal jantung itu ada di dalam dadanya" :: jatuh cinta pada satu waktu? seperti jambu air dirontokkan dari pohonnya sebagian menimpa tanah sebagian menghempas batu di antaranya terbelah di antaranya utuh apakah kau menikmatinya, wahai angin? (bagaimana mungkin kau meniupkan rindu?)

pada saat perih

Seperti kupu-kupu Aku lepas dari kepompongku Lalu kudatangi dia, kudatangi mereka, kudatangi kau Tapi kuhisap kau, hanya kau Warnamu terlalu berkilau Aromamu begitu memabukkan Seperti yang kukira Aku tak kan pernah bisa pergi Dan tak ingin pergi Karena aku telah mati Bersamamu, di taman ini ::: kau ingin menemuiku suatu hari kuyakinkan kau tak akan ada suatu hari itu karena akulah 7 hari dalam seminggu 24 jam sehari 3600 detik dalam hidupmu kini aku begitu dekat padamu hingga memandangiku pun seperti tak kau sadari