Skip to main content

Posts

22 desember

menjelang kematianku seseorang menangis kayu pasunganku basah melapuk dia kira aku terluka padahal aku sudah lupa cara merasa aku disentuhnya tidak mungkin aku moksa tapi jemarinya seperti angin pun tidak tubuhku melepuh dia inginkan dosaku terhapus seperti jejak terhanyut hujan aku bilang percuma dia merintihkan namaku nama kecilku sudahlah, ampuni aku saja lihat siapa yang menungguku di pintu jangan menangis lagi, Ibu

kemarin

aku mayat di antara mayat bermimpi tentang hayat simpankan untukku satu dari ribuan de javu akankah kita berhinggapan pada satu ranting waktu? aku dicekam rindu

parau

kepada wajah-wajah rusak terkoyak dihadiahkan bertubi-tubi pagutan bau busuk gorong-gorong dan hujan setengah hati pagi atau malam adalah pilihan kesedihan dan air mata seperti dua bujangan yang niscaya berjodoh racun-racun. cukup separuh dosis sekali minum kebetulan-kebetulan adalah kebenaran-kebenaran berakselerasi tinggi pada kesempatan-kesempatan serupa kencana di rahimnya bertumbuh calon orok bernama kesalahan keputusan dan penerimaan tak ubah dua sahabat berseteru tak niscaya berdamai

Setelah Lebaran

turunlah, kekasih hati-hati dan pelahan dari singgasana keraguan sehingga degup dada laju teredakan bolehkah kuhamparkan, doa tertatah di palimanan setapak demi setapak susurilah langkahmu semoga sekuat dahulu

Syahid

rohku adalah burung memakan buah-buahan dan menggantung di sebuah pohon surga rohnya terbang berlalu lalang membaca semerdu entah siapa di hari malam pulang kepada rumahnya pelita-pelita dari batu permata dan yaqut dan menggantung di sebuah pohon surga rohku naik ke langit namun langit benderang karena rohnya rohku menanti namun pintu langit terbuka menantikan rohnya selamat datang, berkata para malaikat, “keluarlah wahai jiwa yang baik yang sebelumnya berada di jasad yang baik keluarlah dalam keadaan terpuji dan terimalah kabar gembira ketenangan dan kenikmatan serta Rabb yang tidak murka” rohku mengenal rohnya rohku mendengar rohnya lembut awan kapas meminta, “kami ingin kembali kepada badan-badan kami agar kami dapat berperang karena Engkau sekali lagi” lalu terdengar suara “dari tanah, kembalilah kepada tanah. Aku akan mengeluarkanmu pada hari berbeda” di antara badan kasar dan mori wangi. sangat wangi.

babak satu

selamat datang rasa cemas sebuah pilihan sudah dijatuhkan roh sudah ditiupkan pada janin keingintahuan sebentar lagi sel-sel ternyata akan membelah diri dengan keliaran sempurna perkenankan hamba menggerakkan jari-jari mengunci semua pintu hawa diri memuji-Mu permudahkan ujianku