Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2004

babak satu

selamat datang rasa cemas sebuah pilihan sudah dijatuhkan roh sudah ditiupkan pada janin keingintahuan sebentar lagi sel-sel ternyata akan membelah diri dengan keliaran sempurna perkenankan hamba menggerakkan jari-jari mengunci semua pintu hawa diri memuji-Mu permudahkan ujianku

Jangan pergi, kumohon...

aku jatuh dengan puncak tengkorak menghujam bumi kutemukan lorong panjang ke seberang tidak ada langit belulangku remuk dijilati anjing pasar reinkarnasi saudagar aku menjajakan keringat setetes kecil dengan nampan telapak kaki sungguh melelahkan melompat bertumpu kepala berteriak dengan ibu jari siapa perencana deritaku konstruksi baja pilu menolak bara penghiburan rahangku tirus berpola tamparan apakah harus begitu yang dinamai cobaan aku tak mau angin aku tak mau air aku mau hidup saja lalu mati saja tapi jangan berakhir jangan berhenti menguburku dengan cinta

cintailah aku

kuncup rinduku mekar mendengarmu tertawa semak sesalku sesak melihatmu berair mata akulah warna nila ketika malam merapuhkan stola jingga peredam pucat saat Januari mengasingkan maka pada satu pagi lembut hangat melipat sekujur ragu berharap tak sekedar maya matahariku, engkaukah itu?